Kamis, 12 Nopember 2009 15:54
Puluhan aktivis Greenpeace merantai diri ke 7 eksavator milik PT. RAPP. Aksi mereka dilakukan dengan dalih mencegah perusakan kawasan lahan gambut yang menjadi jantung hutan alam Asia Tenggara.
Riauterkini-JAKARTA- Saat Barrack Obama bersiap mengunjungi Asia untuk pertama kali sebagai Presiden Amerika Serikat, Saat Amerika terus menghalangi kemajuan negosiasi jelang pertemuan iklim penting PBB di Kopenhagen Desember mendatang, sekitar 50 aktivis Greenpeace dari berbagai negara melakukan aksi di jantung hutan alam Indonesia yang sedang terancam untuk mendesak Obama segera melakukan langkah nyata.
Satu kelompok aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: "Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini", menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi, yang merupakan penyumbang seperlima emisi gas rumah kaca global.
Kelompok aktivis lainnya merantai diri kepada tujuh excavator, milik Perusahaan Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRIL - RGE), salah satu perusahaan kertas terbesar di Indonesia (2), untuk mencegah excavator itu menghancurkan hutan lebih jauh lagi guna dijadikan perkebunan (3), ditanam untuk membuat pupuk dan kertas bagi konsumen internasional, termasuk UPM Kymmene. Aksi ini bertepatan dua hari sebelum Obama bergabung dengan 20 kepala negara lain di Singapura dalam rangka Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan beberapa minggu sebelum para pemimpin dunia harus sepakat menghasilkan kesepakatan bersejarah untuk menghindari krisis iklim di Pertemuan Iklim PBB, Kopenhagen, Desember mendatang.
"Greenpeace mengirim pesan penting pada Presiden Obama untuk melakukan langkah nyata dari garis depan kehancuran hutan dan iklim. Dia telah berjanji untuk melakukan langkah penting mengenai perubahan iklim, tetapi hingga beberapa minggu jelang pertemuan iklim PBB Desember mendatang, pemerintahannya secara aktif menghalangi dan menunda negosiasi perubahan iklim global (4)," ujar Rolf Skar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Amerika Serikat. "Sangat vital bahwa Obama dan para pemimpin dunia lain menghadiri Pertemuan Iklim PBB dan menyetujui perjanjian ambisius, adil dan efektif dimana di dalamnya terdapat penghentian perusakan hutan alam di seluruh dunia."
Greenpeace memperkirakan bahwa untuk menghentikan perusakan hutan di seluruh dunia dibutuhkan dana dari negara industri sebesar US$42 miliar (30 miliar euro) per tahun untuk program perlindungan hutan. Jumlah ini lebih kecil dari yang diberikan pemerintah Amerika Serikat kepada bank-bank individu dalam masa krisis finansial tahun lalu,
Aksi hari ini bertempat di Semenanjung Kampar di Pulau Sumatra, dimana Greenpeace juga telah membangun Kamp Pembela Iklim (Climate Defenders Camp). Perusakan hutan tropis dan lahan gambut di Indonesia mengakibatkan terlepasnya CO2 ke udara dalam jumlah sangat besar, membuat Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang polusi terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika Serikat (5). Aktivis di Kamp telah melakukan pembangunan dam di kanal-kanal yang dibangun oleh perusahaan kertas untuk menyiapkan lahan perkebunan-dengan tujuan untuk menghentikan pengeringan dan perusakan lahan gambut yang sangat kaya kandungan karbon. Tanah gambut di kawasan ini saja menyimpan paling tidak dua miliar ton karbon yang akan terlepas ke udara jika hutan dihancurkan (6). Aktivis akan tetap bertahan di sana untuk melindungi hutan alam dan gambut hingga beberapa waktu ke depan.
"Presiden Yudhoyono baru-baru ini berkomitmen untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan Greenpeace berada di sini di jantung hutan tropis untuk membantunya mewujudkan janji itu menjadi aksi nyata," ujar Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar. "Indonesia adalah kilometer nol perubahan iklim. Menghentikan perusakan hutan di sini dan seluruh dunia tidak hanya merupakan cara paling efektif dan hemat dalam memerangi perubahan iklim tetapi juga sangat penting untuk mencegah bencana iklim di masa hidup kita."
Para aktivis akan bertahan di Kamp Selama mungkin. "Kami akan bertahan di sini hingga APRIL mengumumkan kepada publik bahwa mereka akan menghentikan rencana penghancuran hutan guna dijadikan perkebunan," Bustar menutup percakapan.***(rls)
Puluhan aktivis Greenpeace merantai diri ke 7 eksavator milik PT. RAPP. Aksi mereka dilakukan dengan dalih mencegah perusakan kawasan lahan gambut yang menjadi jantung hutan alam Asia Tenggara.
Riauterkini-JAKARTA- Saat Barrack Obama bersiap mengunjungi Asia untuk pertama kali sebagai Presiden Amerika Serikat, Saat Amerika terus menghalangi kemajuan negosiasi jelang pertemuan iklim penting PBB di Kopenhagen Desember mendatang, sekitar 50 aktivis Greenpeace dari berbagai negara melakukan aksi di jantung hutan alam Indonesia yang sedang terancam untuk mendesak Obama segera melakukan langkah nyata.
Satu kelompok aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: "Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini", menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi, yang merupakan penyumbang seperlima emisi gas rumah kaca global.
Kelompok aktivis lainnya merantai diri kepada tujuh excavator, milik Perusahaan Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRIL - RGE), salah satu perusahaan kertas terbesar di Indonesia (2), untuk mencegah excavator itu menghancurkan hutan lebih jauh lagi guna dijadikan perkebunan (3), ditanam untuk membuat pupuk dan kertas bagi konsumen internasional, termasuk UPM Kymmene. Aksi ini bertepatan dua hari sebelum Obama bergabung dengan 20 kepala negara lain di Singapura dalam rangka Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan beberapa minggu sebelum para pemimpin dunia harus sepakat menghasilkan kesepakatan bersejarah untuk menghindari krisis iklim di Pertemuan Iklim PBB, Kopenhagen, Desember mendatang.
"Greenpeace mengirim pesan penting pada Presiden Obama untuk melakukan langkah nyata dari garis depan kehancuran hutan dan iklim. Dia telah berjanji untuk melakukan langkah penting mengenai perubahan iklim, tetapi hingga beberapa minggu jelang pertemuan iklim PBB Desember mendatang, pemerintahannya secara aktif menghalangi dan menunda negosiasi perubahan iklim global (4)," ujar Rolf Skar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Amerika Serikat. "Sangat vital bahwa Obama dan para pemimpin dunia lain menghadiri Pertemuan Iklim PBB dan menyetujui perjanjian ambisius, adil dan efektif dimana di dalamnya terdapat penghentian perusakan hutan alam di seluruh dunia."
Greenpeace memperkirakan bahwa untuk menghentikan perusakan hutan di seluruh dunia dibutuhkan dana dari negara industri sebesar US$42 miliar (30 miliar euro) per tahun untuk program perlindungan hutan. Jumlah ini lebih kecil dari yang diberikan pemerintah Amerika Serikat kepada bank-bank individu dalam masa krisis finansial tahun lalu,
Aksi hari ini bertempat di Semenanjung Kampar di Pulau Sumatra, dimana Greenpeace juga telah membangun Kamp Pembela Iklim (Climate Defenders Camp). Perusakan hutan tropis dan lahan gambut di Indonesia mengakibatkan terlepasnya CO2 ke udara dalam jumlah sangat besar, membuat Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang polusi terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika Serikat (5). Aktivis di Kamp telah melakukan pembangunan dam di kanal-kanal yang dibangun oleh perusahaan kertas untuk menyiapkan lahan perkebunan-dengan tujuan untuk menghentikan pengeringan dan perusakan lahan gambut yang sangat kaya kandungan karbon. Tanah gambut di kawasan ini saja menyimpan paling tidak dua miliar ton karbon yang akan terlepas ke udara jika hutan dihancurkan (6). Aktivis akan tetap bertahan di sana untuk melindungi hutan alam dan gambut hingga beberapa waktu ke depan.
"Presiden Yudhoyono baru-baru ini berkomitmen untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan Greenpeace berada di sini di jantung hutan tropis untuk membantunya mewujudkan janji itu menjadi aksi nyata," ujar Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar. "Indonesia adalah kilometer nol perubahan iklim. Menghentikan perusakan hutan di sini dan seluruh dunia tidak hanya merupakan cara paling efektif dan hemat dalam memerangi perubahan iklim tetapi juga sangat penting untuk mencegah bencana iklim di masa hidup kita."
Para aktivis akan bertahan di Kamp Selama mungkin. "Kami akan bertahan di sini hingga APRIL mengumumkan kepada publik bahwa mereka akan menghentikan rencana penghancuran hutan guna dijadikan perkebunan," Bustar menutup percakapan.***(rls)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar